Rapat kelanjutan kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik dilaksanakan dalam rangka menata ulang struktur organisasi serta menyusun arah gerak kelembagaan mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik secara lebih strategis dan sistematis. Rapat ini menjadi momentum penting dalam menentukan fondasi kepemimpinan mahasiswa yang berorientasi pada kolaborasi, transparansi, dan inovasi. Dengan mempertimbangkan dinamika yang terjadi selama periode sebelumnya, diperlukan evaluasi menyeluruh serta pembaruan strategi untuk menyesuaikan dengan tantangan baru baik di tingkat internal fakultas maupun eksternal kampus.
Acara rapat ini dipimpin secara langsung oleh Wakil Dekan III Fakultas Teknik, Bapak Sarman, ST., M.T., yang dikenal aktif dalam membina dan memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan. Kehadiran beliau memberikan bobot tersendiri dalam proses diskusi, karena membawa perspektif dari sisi birokrasi fakultas sekaligus berperan sebagai penengah antara aspirasi mahasiswa dan kebijakan akademik. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara BEM dan seluruh himpunan mahasiswa agar kegiatan kemahasiswaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dalam satu sistem yang terpadu. Rapat tersebut turut dihadiri oleh Ketua Himpunan Mahasiswa dari setiap program studi yang ada di Fakultas Teknik. Keterlibatan para ketua himpunan menjadi sangat krusial mengingat mereka adalah representasi langsung dari mahasiswa di jurusan masing-masing. Dengan adanya forum ini, berbagai perspektif dapat dikumpulkan untuk merumuskan keputusan yang inklusif. Para ketua himpunan menyambut baik rapat ini karena dianggap sebagai wadah strategis untuk menyatukan visi dan misi antarorganisasi dalam satu payung besar yang bernama BEM Fakultas Teknik. Salah satu isu utama yang dibahas dalam rapat adalah ketidakselarasan komunikasi antara BEM dan himpunan. Beberapa ketua himpunan menyampaikan bahwa sering terjadi tumpang tindih jadwal serta kurangnya koordinasi dalam pelaksanaan program kerja. Hal ini dianggap menghambat efektivitas kegiatan mahasiswa dan menurunkan partisipasi dari masing-masing elemen. Oleh karena itu, dibutuhkan mekanisme koordinasi yang lebih formal dan terstruktur, seperti penyusunan kalender kegiatan bersama dan forum komunikasi rutin.
Bapak Sarman,
ST., M.T. memberikan arahan bahwa keberadaan BEM seharusnya menjadi simpul
penghubung antara semua organisasi mahasiswa di lingkungan fakultas. Fungsi
koordinatif BEM harus diperkuat, bukan sekadar sebagai penyelenggara kegiatan
fakultas, melainkan juga sebagai fasilitator ide dan program dari
himpunan-himpunan yang ada. Beliau menambahkan bahwa penguatan fungsi ini harus
dibarengi dengan profesionalisme pengurus dalam menjalankan tugas, mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan kegiatan. Dalam rapat tersebut juga
dibahas mengenai perlunya regenerasi pengurus yang lebih terencana. BEM sebagai
organisasi puncak mahasiswa teknik harus menjadi contoh dalam menyiapkan
kader-kader baru yang memiliki kapabilitas dan integritas tinggi. Rencana
pelatihan kepemimpinan, pelatihan manajemen organisasi, dan pelatihan
administrasi kegiatan pun mulai dirancang bersama agar proses kaderisasi tidak
terputus di tengah jalan. Semua pihak sepakat bahwa pengembangan sumber daya
manusia menjadi investasi utama untuk keberlanjutan organisasi mahasiswa.

Tak hanya membahas struktur internal, rapat juga menyentuh persoalan sinergi eksternal dengan pihak-pihak di luar fakultas, seperti BEM universitas, organisasi ekstra kampus, dan instansi mitra. Para peserta menyadari pentingnya membangun relasi yang luas agar mahasiswa teknik tidak hanya aktif di lingkungan sendiri, tetapi juga mampu menampilkan eksistensinya di level yang lebih tinggi. Dalam hal ini, BEM perlu berperan sebagai jembatan dan motor penggerak kolaborasi lintas organisasi. Salah satu terobosan yang diusulkan dalam rapat adalah pembentukan forum koordinasi triwulanan yang melibatkan BEM dan seluruh ketua himpunan. Forum ini akan berfungsi sebagai wadah evaluasi dan perencanaan kolektif, serta sarana penyampaian aspirasi secara berkala. Diharapkan, forum ini dapat meningkatkan keterbukaan informasi antarorganisasi dan memperkuat rasa kebersamaan dalam mengelola kegiatan mahasiswa. Usulan ini mendapat dukungan penuh dari peserta rapat dan akan segera dirumuskan dalam bentuk pedoman pelaksanaan. Rapat juga membahas tentang pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana organisasi. Bapak Sarman menegaskan bahwa semua aktivitas yang didanai oleh fakultas maupun sponsor eksternal harus dilaporkan secara akuntabel dan terbuka. Transparansi ini tidak hanya menyangkut laporan keuangan, tetapi juga mencakup hasil kegiatan dan dampaknya terhadap mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas pengurus dalam hal pelaporan dan administrasi, termasuk pelatihan teknis dalam membuat laporan pertanggungjawaban yang baik. Isu inklusivitas juga menjadi perhatian dalam rapat kali ini. Para peserta menyoroti pentingnya melibatkan seluruh elemen mahasiswa tanpa memandang latar belakang organisasi, angkatan, atau afiliasi. BEM harus menjadi rumah besar bagi seluruh mahasiswa teknik, bukan hanya kelompok tertentu. Untuk itu, berbagai strategi inklusi sosial dirancang, seperti pembentukan divisi aspirasi, penyelenggaraan forum diskusi terbuka, serta pelibatan mahasiswa dalam penyusunan kebijakan organisasi secara demokratis. Bapak Sarman juga menyampaikan pentingnya penguatan identitas dan branding BEM Fakultas Teknik. Menurut beliau, citra organisasi mahasiswa sangat mempengaruhi partisipasi dan kepercayaan dari mahasiswa. Oleh karena itu, BEM perlu mengelola media sosial dengan lebih aktif, menyebarkan informasi kegiatan dengan kreatif, dan membangun narasi yang positif tentang peran dan kontribusinya. Branding ini juga akan membantu BEM dalam menjalin kerja sama dengan pihak luar yang memerlukan bukti profesionalisme dan keberlanjutan program. Salah satu hasil konkret dari rapat adalah penetapan tim kerja kecil yang akan menyusun struktur baru kepengurusan BEM, memperbarui pedoman kerja, serta merancang agenda strategis satu tahun ke depan. Tim ini terdiri dari perwakilan BEM, ketua himpunan, serta perwakilan dari pihak fakultas. Penetapan ini menandai dimulainya proses restrukturisasi secara bertahap dengan tetap melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan. Rapat juga menyepakati pentingnya monitoring dan evaluasi kegiatan secara berkala. Masing-masing program kerja akan diminta membuat indikator keberhasilan dan laporan perkembangan yang dapat diakses oleh seluruh organisasi mahasiswa. Sistem ini diharapkan dapat memacu kinerja organisasi, sekaligus menjadi alat kontrol yang efektif agar tidak terjadi penyimpangan atau penurunan kualitas kegiatan. Selama berlangsungnya rapat, suasana diskusi sangat dinamis dan partisipatif.
Semua peserta diberi ruang untuk menyampaikan pandangan, kritik, maupun usulan secara terbuka. Hal ini mencerminkan adanya semangat demokrasi dalam tubuh organisasi mahasiswa di Fakultas Teknik. Bapak Sarman mengapresiasi semangat dan kedewasaan para ketua himpunan dalam berdiskusi dan berharap pola komunikasi seperti ini terus dijaga di masa mendatang. Sebagai penutup rapat, disepakati bahwa hasil dari forum ini akan dituangkan dalam notulen resmi dan disosialisasikan ke seluruh pengurus BEM serta himpunan. Langkah-langkah lanjutan akan segera diambil untuk merealisasikan poin-poin kesepakatan. Rapat ini tidak hanya menjadi ajang koordinasi, tetapi juga tonggak penting dalam menciptakan budaya organisasi yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada kemajuan bersama. Dengan komitmen semua pihak, diharapkan BEM Fakultas Teknik dapat berkembang menjadi organisasi mahasiswa yang visioner, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

